Pengalaman Naik Bus ALS Ke Medan, 67 jam Menjelajah Sumatera (Part 2)

imotorium.com – Bus yang Penulis tumpangi ini kini sudah sampai perbatasan Sumbar – Sumut. Tepatnya di daerah Pasaman, pemandangan hijau menghampar seluas mata memandang. Yap, pesona lintas Sumatera Barat ini memang tiada lawan. Bus Antar Lintas Sumatera yang Penulis naiki ini sesekali berhenti menurunkan penumpang yang sudah sampai tujuannya dan sesekali pula menaikkan penumpang yang hendak menuju Sumatra Utara.

Sisa perjalanan saya kali ini. Walau tampaknya tidak begitu jauh, tapi memakan waktu tempuh nyaris 24 jam karena jalannya sempit, penuh longsor dan kondisi aspalnya agak buruk

Di dalam benak penulis yang sudah lama merindukan perjalanan seperti ini, perjalanan yang sudah menempuh 2 hari 2 malam hingga daerah Pasaman ini sangat menyenangkan. Berasa tujuan sudah dekat walau sebenarnya jarak perjalanan dari Pasaman hingga Kota Medan itu masih sangat amat jauh, masih harus menempuh 1 hari 1 malam lagi. Petualangan sebenarnya memang dimulai di lintas perbatasan Sumatra Barat hingga Sumatra Utara ini.

Jalanan mulai didominasi pegunungan kembali, lebar badan jalan menyempit hingga hanya selebar 1 1/2 body bus yang penulis tumpangi. Tentu saja bila ada kendaraan dari arah lawan salah satunya harus mengalah turun ke bahu jalan supaya bisa sama – sama lewat. Lintas sepanjang Rao Pasaman hingga Muara Sipongi ini penuh kejutan yaitu bekas sisa longsoran tanah. Yap, tebing terjal di sisi kiri dan jurang dalam di sisi kanan begitu pula sebaliknya menghiasi perjalanan ini.

Baca Juga : 

Pengalaman Naik Bus ALS Ke Medan, 67 jam Menjelajah Sumatra (Part 1)

Di rute barat yang sepi ini sopir kedua bus ALS yang masih muda ini memacu kendaraan dengan kecepatan cukup tinggi. Karena sudah makanan sehari – hari jadi pede saja melahap tikungan tajam berupa hairpin dalam kecepatan 60 km/h, baik ke kanan ataupun ke kiri sambil memainkan klakson agar kendaraan dari arah depan yang terhalang tebing lebih awas. Jujur kalau penulis bilang, teknik mengemudinya benar – benar hebat. Bus sepanjang 13 meter lebih ini dibawa seolah mobil minibus kecil dan sama sekali tidak membuat mual dengan manuver seperti itu.

Cuaca memburuk saat tiba di wilayah rawan longsor, di Bukit Dua Belas daerah Muara Sipongi. tikungan yang ada terlalu tajam sehingga bila ingin lewat bus harus mengambil ancang – ancang yang cukup lebar agar tidak menghantam tebing disisi luar tikungan. Bahaya longsor mengintai disini, karena ada papan peringatan yang cukup besar dan sudah tua juga membuat sensasi naik bus kali ini luar biasa. Pengalaman ini tidak pernah penulis alami sebelumnya di lintas timur Sumatra apalagi di Pulau Jawa yang jalanannya bagus dan mulus semua.

Dibawah guyuran hujan lebat bus terus melaju, sesekali berpapasan dengan sesama Bus ALS. Yap, bus asli Mandailing ini mendominasi lintas barat Sumatra Utara. Apalagi dengan jauhnya letak Bandara dari beberapa Kota besar di Sumatra Utara seperti Medan, Sibolga dan lainnya membuat masyarakat asli daerah Mandailing Natal, Tapanuli Selatan dan Tapanuli Utara lebih memilih naik Bus. Kurang lebih setelah 4-5 jam melewati lintas pelosok Sumatra Utara yang ditemani hijau dan tingginya Pegunungan Bukit Barisan tiba juga bus ALS yang penulis tumpangi di daerah asalnya yaitu Kotanopan, Mandailing Natal.

About imotorium 812 Articles
Pekerja kreatif, senang berkendara, fotografi, jalan - jalan dan penyayang. Thanks sudah sudi meluangkan waktu membaca disini, tinggalkan komentar supaya berkesan ya brosist, Semoga bermanfaat

8 Comments

  1. mantaap.. itu nggak ada free makannya ya dit?
    bener sih kalau mengingat bus jogja-lampung yang di 300-400 ribu tanpa service makan, cuma dapat snack aja.. padahal jarak lebih dari 2 kali lipatnya..

    • pegal di kaki sih, hehehe kalau capek malah rasanya capek naik bus yang perjalanannya cuma 6-7 jam dibanding yang perjalanan 3 hari. mungkin karena udah terbiasa kali ya pas trip kemarin itu.

Posting Komentarmu Disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.