Pengalaman Naik Bus ALS Ke Medan, 67 jam Menjelajah Sumatera (Part 2)

Jam 4 pagi tiba – tiba bus berhenti kembali. Ternyata sudah sampai di Tarutung, penumpang disebelah saya turun di Kota Tarutung ini setelah menjalani perjalanan jauh dari Jakarta. Di Tarutung ini bus berhenti di RM Widuri yang mana menurut saya punya fasilitas toilet paling bersih dan makanannya pun enak. Suhu dingin menusuk tulang saat turun dari bus, udara di luar rasanya ada di bawah 16 derajat celcius. Karena feelingnya sudah berasa dekat dari Tarutung ke Kota Medan, saya sempat tidak ingin makan disini. Namun akhirnya karena pertimbangan ini adalah istirahat terakhir saya dengan Bus ALS ini akhirnya saya memutuskan beli makan saja.

Baca Juga :

Kaget Dengan Mahalnya Rumah Makan Lintas Sumatera? Berikut Tips dan Trik Supaya Hemat

Menjelang subuh, bus kembali berangkat dipacu melewati Kota Siborong – borong, dan matahari terbit saat sudah berada di Balige. Disini adalah pusatnya masyarakat Batak Toba, di sisi kiri pemandangan Danau terbesar di Indonesia sudah menyapa ditemani hamparan luas sawah nan hijau dibalik kaca bus yang berembun.

Disambut Pemandangan Indah Danau Toba

Bus disini dipacu dalam kecepatan tinggi oleh supir kedua bahkan menyentuh kecepatan 120 kmh. Memang agak merinding sih mengingat jalanan cukup sempit dan mulai ada warga sekitar yang beraktivitas. Namun inilah supir medan, ya memang sudah terkenal akan kecepatannya sejak dulu. Sambil berdoa semoga ngga ada kejadian apa – apa dan percaya dengan kemampuan mengemudi si supir kedua ini, bus akhirnya memasuki Kota Porsea pada jam 7 pagi.

Disini penumpang hanya tinggal berlima saja, ditambah kru bus 4 orang. Jadi satu bus hanya diisi 9 orang saja. Perjalanan di daerah ini sungguh berlimpah pemandangan indah yang tidak bisa diceritakan dalam sebuah artikel, artinya brosist juga harus mencobanya!! bus melewati banyak bangunan megah yang merupakan pemakaman dari keluarga besar dari Masyarakat Batak Toba. Bahkan saking besarnya bangunan ini sering dijadikan tempat berkumpul keluarga dalam merayakan hari besar.

Sekitar jam 8 pagi sudah tembus di Parapat. Disini adalah pusatnya pariwisata Danau Toba, disini banyak penginapan dan fasilitasnya lengkap sekali. Disini bus kembali menurunkan penumpang dan paketan yang dibawa dari Lampung. Pemandangan Parapat menuju Siantar ini memang paling juara. dari atas tebing kita bisa melihat luasnya Danau Toba, yang bahkan Pulau Samosir dan ujung baratnya tidak terlihat saking luasnya. Jadi teringat dahulu semasa masih sekolah sering diajak kesini oleh Saudara di Medan, menyebrang ke Samosir dan kemudian menginap.

Disini batere handphone yang saya gunakan merekam sudah semakin berkurang, mau charge tapi penuh slotnya dan powerbank sudah habis. akhirnya disini saya pasrah untuk melewatkan beberapa momen pada saat masuk Kota Siantar setelah sekian lama tidak kesana lagi, kemudian melewati Kota Tebing Tinggi setelah melalui lurusnya jalanan Seribudolok yang sering jadi arena balapan bus lokal Intra grup (sumber kencononya Sumatra Utara).

Baca Juga :

Bule pun Takjub, Keberanian Supir Medan Dalam Membawa Bus

Dan keputusan saya tepat sekali saat makan di Tarutung jam 4 tadi pagi. Perjalanan menuju Kota Medan ditempuh 6 jam lebih, lewat Tebing Tinggi baru ada pedagang lemang yang naik. Sangat menggoda sekali apalagi ini adalah kuliner khas Tebing Tinggi. Tebakan saya bus akan melewati lintas timur melewati Pasar Bengkel, yang mana disana adalah sentra Dodol khas Sumatra Utara. Maksud hati hendak sekalian membeli untuk dibawa balik ke Jawa nanti ternyata bus langsung masuk Tol di Sei Rampah.

Yap, kini jalan Tolnya sudah lebih jauh, bila dulu hanya dari Belawan hingga Tanjung Morawa kini jalan tolnya sudah sampai ke Sei Rampah. Tentu saja lebih cepat jadinya jarak tempuhnya tapi ya itu, gagal beli dodol deh jadinya hahaha. Hanya merekam sedikit lagi dengan batere seadanya saya kemudian tertidur. Tiba – tiba sekitar jam 11 pagi Penulis kembali dibangunkan, dan ternyata sudah di dalam Pool Pusat ALS di Amplas, Kota Medan. Ya, akhirnya finish juga perjalanan saya dari Jakarta pada Minggu Sore tanggal 25 November 2018 dan tiba hari Rabu tanggal 28 November 2018.

Terimakasih untuk para kru bus ALS yang sudah mengantarkan Penulis kembali ke Kota Medan setelah sekian lama tidak pulang, perjalanannya nyaman dan tentu saja Penulis merekomendasikan bus ALS ini buat yang ingin mengetahui sebenarnya Lintas Sumatra itu seperti apa. Oya berikut Penulis berikan rincian kasar pengeluaran Penulis selama perjalanan.

Biaya Perjalanan bus ALS Jakarta Medan :

Tiket : 500.000 (Ac Toilet / Executive)

Makan : 25.000 – 30.000 x 8 = 220.000

Obat, snack dan air minum : 50.000

total 770.000

Tiket pesawat paling murah saat itu masih berada di harga 670.000, dalam artian pengeluaran perjalanan menggunakan bus justru lebih besar. Tapi sebanding sama pengalaman yang didapat dan kepuasan batin yang luar biasa. Juga sekalian jalan – jalan ke banyak daerah di Sumatra, jadi penulis pikir pengeluaran segitu ya tergolong murah.

Semoga bermanfaat. (imt)

About Aditya 767 Articles
Pekerja kreatif, senang berkendara, fotografi, jalan - jalan dan penyayang. Punya channel Youtube imotorium VLOG dan kadang - kadang host di KarsTV Thanks sudah sudi meluangkan waktu membaca disini, tinggalkan komentar supaya berkesan ya brosist, Semoga bermanfaat

7 Comments

  1. mantaap.. itu nggak ada free makannya ya dit?
    bener sih kalau mengingat bus jogja-lampung yang di 300-400 ribu tanpa service makan, cuma dapat snack aja.. padahal jarak lebih dari 2 kali lipatnya..

    • pegal di kaki sih, hehehe kalau capek malah rasanya capek naik bus yang perjalanannya cuma 6-7 jam dibanding yang perjalanan 3 hari. mungkin karena udah terbiasa kali ya pas trip kemarin itu.

Posting Komentarmu Disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.