Fenomena Tergusurnya Populasi Bus Besar Dan Bus Medium Di Lintas Sumbar


imotorium.com – Mungkin memang sudah masanya, angkutan bus besar khususnya yang beroperasi di wilayah Provinsi Sumatra Barat – Riau semakin berkurang jumlahnya. Ya, ini karena perkembangan zaman. Bayangkan saja.. bagi yang lahir dan besar di Sumatra, apalagi zaman orang tua kita dahulu.. Bus besar (atau sering disebut jumbo) menjadi favorit bagi para penduduk di daerah – daerah untuk merantau


Kini keberadaan bus-bus besar & medium di lintas Sumatra Barat dengan muatan hingga 40-50 orang hampir tidak ada atau bisa dibilang habis sama sekali. Lain halnya dengan rute AKAP yang memakan rute jarak jauh seperti yang mengarah ke Sumatra Utara atau ke Jakarta seperti NPM, ANS, Transport Express, Lubuk Basung Jaya, Gumarang.. PO – PO asli sumbar ini masih tetap eksis walau jumlah armadanya tidak sebanyak dahulu.

Dahulu, banyak Perusahaan Otobus asli Sumbar, tidak hanya nama – nama diatas saja.. seperti misalnya trayek Padang-Bukit­tinggi pernah ada nama PO Triarga dan Cemerlang, yang terkenang namanya dalam sepenggal bait di Lagu yang dinyanyikan Elly Kasim.

 

Tidak lupa nama legenda lintas sumbar lainnya seperti Bintang Kejora, Bunga Setangkai, TES, Sinamar, Soember, Pozla, Manila, Dagang Pesisir, Harmoni, Bahagia dll.. kini sudah mulai tak nampak

Tak lain dan tak bukan adalah karena mulai maraknya angkutan travel berbasis elf / mikrobus.. bahkan minibus seperti Toyota Innova, Avanza atau Daihatsu Luxio semakin banyak. Ini yang menyebabkan populasi bus besar Antar Kota Dalam Provinsi dan bus Antar Kota Antar Provinsi semakin berkurang. Wajar saja, karena dahulu bus – bus besar itu berangkatnya hanya di jam – jam tertentu saja, dan itupun kadang harus menunggu lama hingga penumpang terisi lumayan penuh baru bus bisa berangkat ke tujuan.

Baca juga :

Runtuhnya Kerajaan Bus Asal Ciamis, Jawa Barat

Kultur masyarakat Minang sendiri dalam hal ini sebagai penduduk asli Sumbar semuanya sudah pasti mengerti. Masyarakat Minang dikenal sebagai kaum perantau yang mobilitasnya tinggi, tidak memiliki waktu banyak untuk berleha – leha dan sudah pasti ada korelasinya.. untuk apa naik kendaraan yang memakan waktu lama kalau bisa pakai kendaraan yang jauh lebih cepat?

Rupiah Di Depan Mata

Disinilah jelinya mata masyarakat yang memiliki modal lebih, melihat akan kebutuhan moda transportasi yang cepat, nyaman dan tentunya terpercaya mulai bermunculan angkutan – angkutan travel diatas. Toh, modalnya tidak semahal membeli sebuah bus besar, dan tentunya juga biaya maintenance dan ongkos jalan juga tidak mahal. Bila dalam satu trip mobil bisa terisi penuh 6 sampai 10 orang.. sudah bisa berangkat. Itu pastinya sudah mendapat untung.. beda hal dengan bus besar.. bila ngga dapat “sewa” tapi tetap maksa jalan alamat tekor, sudah keluar uang solar.. belum resiko di jalan, dan lagi kalau sudah waktunya servis pasti makan biaya yang tidak sedikit. 🙄

Keunggulan mobil – mobil travel dibandingkan bus besar / medium pun juga terletak di keamanan penumpang, penumpang lebih merasa nyaman sebab kemungkinan barang hilang misal dicopet itu minim sekali. Dan ada nilai plus lagi.. travel – travel dengan elf / minibus itu biasanya sudah dilengkapi AC, hal yang agak sulit ditemui untuk bus rute AKDP di Sumbar.

Faktor – Faktor Lain Penyebab Populasi Bus Besar Berkurang

Faktor lain yang secara tidak langsung memukul keadaan para pengusaha otobus di ranah Minang adalah semakin mudahnya kini memiliki kendaraan pribadi bagi setiap keluarga. Perusahaan Leasing sudah bertebaran dimana – mana dan dealer kendaraan yang kini aktif “jemput bola” kepada calon customer. Tinggal bayar DP sekian persen dan cicilan sekian tahun sudah punya kendaraan sendiri.. tentunya jauh lebih nyaman kan?

Pastinya kepemilikan kendaraan pribadi yang semakin besar ini juga menjadi penyebab orang enggan menggunakan transportasi umum. Toh kini kemana – mana sudah mudah ngga perlu takut nyasar, bisa mengandalkan maps via smartphone.. isi bensin dan tentunya ketrampilan mengemudi itu sudah cukup. :mrgreen:

Belum lagi, pemerataan pembangunan di setiap daerah kini semakin terasa. Ambil contoh.. di sektor pendidikan saja. Dahulu, banyak anak muda yang merantau ke Ibukota provinsi misalnya Padang hanya sekedar untuk kuliah karena di daerah asalnya tidak ada Perguruan Tinggi. Kini.. hampir setiap kabupaten punya Perguruan Tinggi sendiri, tentu saja banyak yang memilih kuliah di daerah sendiri daripada harus merantau keluar karena bisa lebih menghemat biaya.

Miris memang bagi para pengusaha otobus, bagi orang – orang yang mencari nafkah didalamnya, dan bagi para pencinta bus besar.. namun inilah perubahan zaman, yang bisa beradaptasi dialah yang akan bertahan. 🙁 (imt)

<

3 comments

  • Ardie

    Artikel busnya sekarang semakin jarang ya… padahal saya suka sekali baca artikel ttg bus di blog ini. Semoga kedepannya ttp konsisten menulis ttg bus 😃

    • imotorium

      Wah makasih mas Ardie udah sering berkunjung ke sini, iya nih saya juga sadar agak jarang nulis tentang bus lagi. Tapi insyaallah kedepannya saya nambah konten tentang bus lagi deh, sekalian sama catatan perjalanan / trip report 😁😁

Sharing Pengalaman Atau Komentar Masbro Disini Ya

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: