About these ads
jump to navigation

Runtuhnya Kerajaan Bus Asal Ciamis, Jawa Barat December 1, 2016

Posted by imotorium in : Bus, Mobil , trackback

po-aladdin

imotorium.com – Siapa yang pernah merasakan gemerlapnya bus – bus asal selatan Jawa Barat di era 1970-1990 an? Ya, pastinya akan teringat oleh bus – bus seperti Aladdin, Perkasa, Bahagia, Waspada dll ?? Era ini jauh sebelum bus – bus penguasa Jawa Barat saat ini seperti PO. Budiman dan Primajasa berkembang. Berikut adalah kutipan sekilas sejarah yang penulis hadirkan kembali dari salah satu harian lokal Pikiran Rakyat.

merdeka 4

“Dulu, kami menjadi ’raja’ di jalanan Jawa Barat!”

SEKELUMIT romantisme segera saja menyeruak ketika H. Wawan Otid memulai perbincangan. Wawan adalah salah seorang anak pemilik perusahaan otobus (PO) Budi Darma di Kab. Ciamis. Beberapa dekade lalu, bus-bus asal Ciamis memang “menguasai” jalan raya di Jawa Barat, terutama jalur selatan. Mulai dari Kota Banjar, Ciamis, Tasikmalaya, Bandung, Cianjur, hingga Jakarta. Bus-bus itu dimiliki oleh sejumlah PO –baik yang masih hidup, sekarat, bahkan mati–, seperti Budi Darma, Aman Abadi, Gunung Tua, Alladin, Harum, Swadarma, Darma Karya, Waspada, Bahagia, Merdeka, Gapuraning Rahayu, Garuda Indah, Darma Kusumah, Kesatuan, dan Sari Bhakti Utama.

Dominasi angkutan bus dari Ciamis itu, kata Wawan, berlangsung selama hampir empat dekade, sejak dekade 1960 an hingga pertengahan dekade 1990. “Bayangkan saja, Budi Darma saja sempat memiliki seribu bus. Merdeka di atas dua ratus bus. Lalu, Aladin lebih dari 150 bus. Belum bus PO-PO lainnya,” katanya.

Wawan mengungkapkan, kejayaan tersebut diperoleh setelah para pemilik PO menempuh perjalanan panjang yang berliku tajam. Budi Darma misalnya, PO yang dirintis sang ayah (H. Otong Idi) sejak dekade 1950. Ia mulai meretas usaha angkutan umum melalui opelet Chevrolet Suburban jurusan Ciamis-Bandung dan daerah lainnya.

Awal dekade 1960, armada yang digunakan mulai beralih ke angkutan bus dengan nama perusahaan Budi Darma. Bus itu sejumlah melayani trayek antardaerah di Jawa Barat, Jakarta, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur. Ketika itulah, Otong Idi masuk lima besar pengusaha angkutan umum di Pulau Jawa, bersanding dengan H. Engkud (PO Mayasari di Jakarta), H. Atang (PO Medal Sekarwangi), Hasjim Ning, dan lain-lain.

**

Perusahaan Budi Darma terus mengembangkan sayap, bahkan sempat pula merambah dunia taksi di Kota Bandung. Selain itu, Otong Idi mengajak saudara dan rekan-rekannya di Ciamis untuk turut mengembangkan usaha angkutan bus. Bermunculanlah puluhan pengusaha baru di dunia ini, seperti H. Aceng Kendar (PO Alladin), H. Jalil Anwar (PO Gunung Tua), Oong Hanan (PO Waspada), dan H. Iding Husen (PO Aman Abadi).

Menurut H. Tatang, salah seorang putra H. Aceng Kendar (alm.), sebenarnya, sang ayah mulai merintis usaha angkutan mulai tahun 1962. Awalnya, ia juga membuka usaha angkutan suburban Chevrolet jurusan Ciamis-Bandung. “Dari satu mobil, sempat sampai enam mobil,” kata Tatang.

Setelah itu, ujar dia, H. Aceng mulai mengalihkan usahanya ke angkutan bus. Mulanya, ia membeli satu bus bekas dari Mansyur, seorang veteran. Selang beberapa lama, ia membeli lagi dua unit bus. Pada tahun 1970, mayoritas PO ramai-ramai mengganti bus yang semula berbahan bakar bensin menjadi solar. Aceng punya cara, ia membeli truk untuk kemudian disulap menjadi bus. “Pertimbangannya, lebih murah. Makanya, sejak itu, Alladin terus menambah bus,” katanya.

Kondisi sebaliknya justru dialami PO Budi Darma yang notabene perusahaan bus terbesar di Ciamis. Perusahaan itu kesulitan mengganti bus. Wawan mengatakan, hal itu terjadi karena kendaraan yang begitu banyak. “Kami kebingungan. Kalau dialihkan, lalu harus kami ke manakan bus yang sudah ada? Ini menjadi titik awal kesulitan yang dialami oleh Budi Darma,” kata Wawan mengenang.

po-perkasa

PO. Perkasa – pict widodogroho blog

Perlahan namun pasti, sejumlah perusahaan bus di Ciamis –yang mampu “menyesuaikan diri” mengalami perkembangan berarti, seperti Alladin, Merdeka, dan Waspada. Sementara, Budi Darma –terutama memasuki dekade 1980– mulai terseok-seok. Salah satunya adalah selisih harga bensin dan solar yang semakin jauh. Akibatnya, biaya operasional semakin tinggi. Akhirnya, satu per satu bus milik PO Budi Darma dijual. “Bahkan, bus Satria Darma yang masih satu grup dengan Budi Darma dijual ke Merdeka dan Bahagia,” kata Wawan.

Meredupnya usaha Budi Darma juga disusul oleh Gunung Tua, Waspada, Darma Karya, dan lainnya. Sementara, ketika itu, PO-PO yang kian berkembang, di antaranya Merdeka, Alladin, Bahagia, Sari Bhakti Utama (SBU).

**

Sakura, Armada satu satunya

Sakura, Armada satu satunya

Namun, menurut Tatang Kendar, memasuki dekade 1990, persaingan antar-PO kian ketat. Usaha angkutan bus makin terpukul ketika krisis ekonomi melanda pada tahun 1998. Saat itu, harga onderdil sangat mahal, lalu ditambah beberapa kali kenaikan harga bahan bakar.

Usaha angkutan bus mulai meredup, termasuk Alladin. Bayangkan saja, dari total 160 bus, kini bus milik perusahaan itu berada di bawah lima puluh unit. “Begitu juga dengan Merdeka yang semula lebih dari dua ratusan bus, menurun sampai sembilan puluhan,” kata Abun Hasbullah, pengurus bus Merdeka. Perusahaan lainnya, seperti Sari Bhakti Utama, juga terkena dampak. H. Kusmana, sang pemilik perusahaan, seperti tak lagi berharap banyak terhadap usaha angkutan bus itu. Oleh karena itu, saat ini, ia lebih banyak bergerak di bidang jasa konstruksi.

Secara perlahan, angkutan bus dari Ciamis digeser oleh pemain baru, seperti PO Budiman dari Tasikmalaya dan Sinar Jaya yang masuk ke jalur selatan.

“Tetapi, apa pun kondisinya, saya akan berusaha untuk mempertahankan Alladin. Soalnya, wasiat orang tua, Alladin jangan sampai hancur atau hilang. Sekalipun jumlah bus sedikit dan kita beralih ke usaha lain, tidak akan melepas sama sekali bus ini,” kata Tatang Kendar. Hal serupa dikemukakan Abun. Kendati jumlah bus Merdeka menyusut, sekuat tenaga akan dipertahankan. Kalau sampai bubar, akan banyak orang kehilangan pekerjaan. “Sekarang, ada tiga ratus orang mengandalkan hidup dari Merdeka. Kalau sampai bubar, kasihan. Jadi, kita berusaha mempertahankannya,” ujar Abun.

po-aladdin-2

Akankah PO asal Ciamis bangkit kembali?

Akan tetapi, sampai kapan kerajaan bus dari Ciamis bertahan? Tidak ada yang bisa memastikan. Para pengusaha bus itu yang merupakan generasi kedua itu hanya bisa berdoa dan berusaha. Waktulah yang akan membuktikannya, apalagi melihat kenyataan banyak PO yang kini tinggal nama. Sejumlah nama bisa disebut seperti Budi Darma, Aman Abadi, Waspada, Garuda Indah, Swadarma, Darma Karya, dan Darma Kusumah.

Semoga saja … agar priangan selatan bisa berwarna kembali seperti dahulu. (imt)

About these ads

Comments»

1. satriabergetar - December 1, 2016

Pernah lihat bis merdeka,aladdin,atau medal sekar wangi di tol Purbaleunyi.
Armada nya rata-rata sudah tidak mulus lagi.

imotorium - December 3, 2016

iya, manajemennya ngga mampu lagi untuk urus bus – busnya.. padahal dulu penggemarnya banyak

2. ILHAM Fahreza - December 1, 2016

“katanya” sari bakti utama pernah tinggal punya unit 1″ nya trus armada terakhir itu laka d puncak
akhirnya… tinggal cerita

imotorium - December 3, 2016

sayang ya kang, armada terakhir harus kena laka.. coba kalau masih mulus :'(