Pengalaman Naik Bus Sempati Star Double Decker Jakarta – Medan (Part 3)

Perjalanan dilanjut, dibalik kaca yang mengembun tebal karena dinginnya kabin bus tampak Kota Duri yang kini sudah berkembang, lanjut lagi hingga tertidur, tidak melihat sama sekali bagaimana suasana kota kecil seperti Bagan batu dll. Bangun – bangun  bus ternyata sudah masuk Sumatra Utara, jam 5 subuh di Cikampak, ya ada nama daerah di perbatasan Sumut – Riau yang namanya Cikampak, terdengar mirip sekali dengan Cikampek. Bus Sempati Star Double Decker terus melaju melewati jalinsum yang relatif sepi dan mulus. Kondisi lintas timur Sumatra Utara ini memang jauh lebih baik dibanding lintas barat Sumatra Utara yang kondisinya kurang diperhatikan.

Akhirnya melewati Kota Rantau Prapat, disini adalah pertama kalinya dalam perjalanan bus bisa melihat suasana pagi hari dari Kota yang merupakan titik akhir dari perjalanan Kereta Api di area Sumatra Utara. Biasanya lewat Rantau Prapat ini matahari masih belum terbit. Suasana Rantau Prapat ternyata serupa seperti kota lainnya di Lintas Timur Sumatra seperti Kisaran dan Tebing Tinggi. Bus melewati jalan Adam Malik Rantau Prapat yang pada pagi hari jam 7 masih sepi, benar – benar kontras dengan suasana Ibukota.

Baca Juga :
Becak Motor Moge Siantar Itu Sudah Mulai Menghilang

Bus terus melaju dengan kecepatan lebih tinggi dibanding hari – hari sebelumnya. Saya paham sepertinya mengejar waktu masuk medan agar tidak sampai pada sore hari. Melewati kota lainnya seperti Asahan, Kisaran, Tebing Tinggi dan akhirnya bus masuk jalan tol di GT Rambutan. Dari sini bus melaju hingga kota Medan dengan kecepatan hampir konstan 100 km/h.

Tiba di Medan, bus keluar di GT Amplas dan melaju perlahan melalui jalan SM Raja kemudian masuk Ring Road hingga menuju pool Sempati Star Pondok Kelapa. Total perjalanan saya dengan bus Sempati Star Double Decker kali ini bila dihitung sejak keberangkatan di Pulogebang hingga sampai Medan total kurang lebih 72 jam. Ini memang bisa dibilang lebih lama dari normalnya yang memakan waktu sekitar 60 jam. Yah, karena selain kena macet di Sumsel, bus yang saya tumpangi ini juga tidak bisa melaju sekencang bus reguler pada umumnya, wajar saja karena dimensi bus yang lebih besar, panjang dan tinggi. Driver tidak mengambil resiko yang bisa merusak bus misalkan kena ranting pohon saat menikung atau menghajar jalan rusak karena bisa merusak suspensi udaranya.

Berikut cost yang saya keluarkan untuk sampai ke kampung halaman di medan

Tiket Bus Sempati Star Double Decker VIP Class = Rp 600.000

Makan (20.000 – 30.000 sekali berhenti) x 6 = Rp 180.000

Snack, air minum dan obat untuk perjalanan = Rp 50.000

Total = Rp 830.000

Memang bisa dibilang hampir sama saja seperti naik pesawat (malah sebelum tahun 2019 tiket pesawat medan – jakarta PP itu hanya berkisar Rp 650.000) tapi pengalaman yang didapat dengan menaiki bus ini adalah pengalaman yang luar biasa. Kita bisa melihat bagaimana suasana tiap kota di daratan Sumatra yang membentang luas, dan perkembangan kota yang semakin modern.

Semoga berguna.(imt)

About Aditya 799 Articles
Pekerja kreatif, senang berkendara, fotografi, jalan - jalan dan penyayang. Punya channel Youtube imotorium VLOG dan kadang - kadang host di KarsTV Thanks sudah sudi meluangkan waktu membaca disini, tinggalkan komentar supaya berkesan ya brosist, Semoga bermanfaat

2 Comments

Posting Komentarmu Disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.