Semua Tentang Bus dan Angkot Yang Pintunya Tidak Pernah Tertutup Di Indonesia


imotorium.com – Semua bus dengan pintu yang tidak pernah tertutup di Indonesia, ya.. judul artikel kali ini lekat dengan bus – bus yang memiliki kompetisi tingkat tinggi. Bus yang menerapkan sistem setoran harian, yang mana bus seperti ini dikenal dengan tarifnya yang enak di kantong, tapi menyiksa lahir batin penumpangnya saat jam sibuk.

Belum lama ini, tepatnya tanggal 23 Oktober kemarin, setelah pulang dari salah satu acara jurnalis di Bogor, penulis beserta teman blogger lainnya seperti mang Rama dan mang Wisnu ingin balik ke rumah masing – masing. Awalnya kami berencana pesan taxi online karena toh patungan bertiga pasti bayarnya tidak seberapa, namun salahnya kami bertiga terlalu sore saat ingin mengorder taxi online tersebut.. yah, wajar saja.. tarifnya sudah berubah ke peak hour.. dan di layar smartphone tertera 136.000 untuk ongkos dari pancoran menuju taman mini. Gila mahalnya… akhirnya batal deh pesan taxi online tersebut


Berpikir untuk menemukan alternatif angkutan yang murah supaya tidak terlalu malam sampai ke rumah, karena badan sudah capek, yasudah.. inisiatif berangkat ke pasar minggu menggunakan bus met**mini, untuk selanjutnya nyambung angkot atau pesan taksi online lagi, toh sudah menghindari zona merah (zona yang diberlakukan tarif progresif). Bus tua yang dibenci namun tetap dibutuhkan ini kami naiki, suasananya saat itu untung tidak penuh berdesakan, karena masih jam 4 sore, dan tarif yang dibayarkan cukup 4000 saja untuk jauh dekat, langsung ke si bapak sopir yang tampaknya sudah berumur 60-an lebih, tanpa kondektur saat itu. Kok murah ya? wajar saja.. tarif mereka dikendalikan oleh pemerintah.

ini kedua kalinya penulis naik metromini sejak kembali hidup di Jakarta sejak 2009, ya pernah sekali naik metromini di pondok indah tahun 2011, dan 6 tahun sesudahnya tidak ada perubahan sama sekali, busnya semakin tua, semakin bobrok.. suara transmisi yang kasar berdengung seperti mau copot jadi ciri khas. Jalannya lambat sekali seperti keong, dan cenderung membuat macet barisan kendaraan dibelakangnya. Dan di dalam bus ini harus terjaga dengan baik.. selalu waspada karena ngeri ada copet dan sebangsanya. Tentu saja kondisi ini sangat – sangat tidak nyaman, terbayang rasanya kalau tiap hari harus berjibaku naik angkutan seperti ini, apalagi pas puncaknya jam pulang kerja.. duh mak stress berat.

Berkaca pada keadaan seperti ini, sepertinya sulit mengharapkan angkutan seperti Metr**ini, Ko**ja DKK berubah. Beda rasanya bila dibandingkan dengan negara tetangga, ambil contoh di Malaysia.. yang mana bus disana juga sama – sama dijalankan oleh pihak swasta, tarifnya dikendalikan oleh pemerintah, dan uniknya bus – bus disana kondisinya bagus sekali. Di Indonesia sendiri memang sudah ada bus semacam itu yang dikelola oleh pemda dengan operatornya dari pihak swasta seperti TransJakarta / Transjabodetabek, Transjogja, Transpakuan dan bus trans – trans dikota lainnya. Namun headwaynya masih dirasa sangat kurang, armadanya belum begitu banyak dan trayeknya tidak menjangkau banyak tempat.

bus yang dioperasikan oleh S&S International di area perkotaan Johor Bahru, bus ini merupakan bus yang dibeli bekas dari Metrobus Kuala Lumpur. Beroperasi seperti bus kota biasa tanpa jalur khusus seperti bus transjakarta, namun tetap memberikan kenyamanan bagi penggunanya.

Dipikir – pikir.. pengemudi angkutan umum seperti Metr**ini, Ko**ja DKK disini jauh lebih hebat daripada di negara lain seperti Malaysia / Singapura. Di Singapura/Malaysia mungkin ada yg namanya sekolah pengemudi dan sudah menjadi kewajiban dan standar kalau mau mengemudi harus lewat tahapan itu. Disini pelajaran mengemudi diturunkan dari pewaris pengemudi karena tidak ada sekolah mengemudi khusus angkutan umum, dan tidak diwajibkan juga kok dalam UU. Jadi hebat kan? Gak perlu kursus/sekolah tapi boleh membawa penumpang untuk tujuan komersil lagi.

 

 

Nah di Indonesia ini yang sudah jadi pengemudi angkutan umum seperti met**mini ko**ja dkk masih lebih hebat lagi, karena selain tugas MENGEMUDI (ngangkut penumpang), mereka juga bertugas sebagai SALES & MARKETING. Jadi rangkap 2. Karena kan kejar setoran, jadi keluar dari terminal A, selain sambil mengangkut penumpang, musti pintar2 prospek cari penumpang juga (marketing) supaya memenangkan kompetisi dengan kompetitor lain agar target tercapai (sales). Kalau target tidak tercapai, supir dan pengusaha merugi, karena BBM sudah keluar tapi gak dapat revenue dari penumpang (diambil penumpangnya oleh kompetitor lain). Beda kalau di Singapura / Malaysia, tugas supirnya paling cuman angkut penumpang dari terminal A sampai terminal B dengan pemberhentian di C, D, dst. Intinya tugasnya hanya mengangkut penumpang sampai tujuan.

bangkunya sampai ngga berbentuk lagi.. weleh

Karakter Transportasi Negara Berkembang

Kota di negara berkembang memang kebanyakan menyerahkan penyelenggaraan angkutan kota kepada swasta yang dapat berbentuk individual operator (perorangan) ataupun semacam koperasi untuk melayani berbagai rute. Di antara kedua sistem ini juga terdapat sistem di mana pemerintah menentukan standar pelayanan angkutan kota, tetapi menyerahkan penyelenggaraannya kepada swasta melalui izin lisensi trayek atau rute.

Mengutip pernyataan dari pakar transportasi Harvard University, Prof Jose Gomez-Ibanez. Beliau menyatakan, banyak negara berkembang terjebak dalam putaran siklus pengelolaan angkutan kota dari pemerintah-swasta-pemerintah.

Awalnya sering kali pengelolaan angkutan kota yang tidak efisien oleh pemerintah mengakibatkan peningkatan subsidi, yang pada akhirnya akan memaksa pemerintah menaikkan tarif untuk mencegah subsidi yang sangat besar. Kegagalan pemerintah (government failure) ini biasanya direspons dengan swastanisasi dengan anggapan bahwa swasta dapat beroperasi lebih efisien dan tanpa subsidi.

Dalam tahap awal swastanisasi, pemerintah biasanya menetapkan standar pelayanan minimum untuk layanan angkutan kota. Selanjutnya melakukan tender hingga operator swasta ditunjuk untuk melayani satu rute atau trayek.

Tujuannya agar angkutan kota tetap memiliki standar pelayanan yang baik. Kompetisi terjadi pada waktu operator mendapatkan izin trayek (competition for the market). Tahap ini sebenarnya merupakan tahap kritis bagi banyak kota di negara berkembang karena sering kali standar pelayanan yang ada tidak ditegakkan di lapangan. Hal itu terjadi karena lemahnya pengawasan.

Fenomena ini terjadi di Indonesia di mana yang terjadi adalah rute atau trayek yang tumpang tindih, terlalu banyaknya jumlah operator pada satu rute, bahkan beroperasinya angkutan gelap tanpa izin yang bersaing untuk mendapatkan penumpang.

Persaingan , Persaingan dan Persaingan

Lemahnya pengawasan di lapangan dan persaingan yang tidak sehat antar operator menyebabkan fenomena kegagalan pasar (market failure). Persaingan tidak sehat antar operator akan timbul karena saling mengejar penumpang. Terlalu banyaknya tumpang tindih rute dan operator resmi dan gelap yang beroperasi menyebabkan tingkat keterisian (load factor) angkutan menjadi turun. Pada akhirnya operator angkutan kota mulai mencari cara agar tetap bertahan di tengah persaingan yang sangat tidak sehat.

Di Indonesia kita sering mendengar fenomena kanibalisme suku cadang di mana suku cadang bekas pakai digunakan untuk angkutan kota. Cara lain bagi bus / angkot untuk bertahan adalah mengabaikan biaya-biaya pemeliharaan. Bahkan, tak sedikit pemilik yang menyiasati uji kir dengan cara menyewa berbagai jenis peralatan hanya untuk lulus kir. Oleh karena itu, masyarakat tidak heran apabila menemukan kondisi angkutan kota yang tidak layak operasi masih mencari penumpang.

Kualitas angkutan kota yang semakin memprihatinkan mendorong terjadinya peningkatan jumlah kendaraan pribadi. Di Indonesia, kota-kota mengalami pertumbuhan jumlah sepeda motor yang cukup fenomenal di jalan raya. Beberapa studi menunjukkan bahwa kredit sepeda motor lebih murah 30-35 persen ketimbang menggunakan angkutan umum di Jabodetabek (perbandingan dengan tarif angkot lama). Pertambahan jumlah sepeda motor dan kendaraan pribadi ini pada akhirnya akan meningkatkan kemacetan di perkotaan.

intinya mental manusianya dulu dibenerin, kalau masih mental setoran nasibnya ya seperti di afganistan ini.. mau dikasih bus sekelas Mercy Citaro juga tetap aja.. bakal bobrok.

Wajar saja kan, kemacetan makin hari makin menjadi. Entah bagaimana resep pemerintah yang ingin menggalakkan agar banyak warganya mau menaiki transportasi umum, terasa bagai mimpi di siang bolong selama keadaan seperti ini. Dan yang ada di benak penulis.. selama bus dan angkot pintunya tidak pernah tertutup, selama itu juga masyarakat emoh naik angkutan umum kecuali terpaksa. (imt)

sebagian referensi serta foto berasal dari skyscrapercity.com dan google<

3 comments

Sharing Pengalaman Atau Komentar Masbro Disini Ya

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: