Advertisements

Mengenang Batavia Air : 11 Tahun Mengudara , Zero Accident

Bandung –  Maskapai yang sedikit banyak identik dengan airbus family ini, mulai menghiasi langit pada 5 Januari 2002. Perusahaan penerbangan ini berawal dari bisnis biro perjalanan yang dimiliki oleh pemiliknya, yaitu Yudiawan Tansari. Seperti apakah perjalanan mereka hingga mampu menjadi salah satu dari 5 maskapai terbesar diindonesia? Awal masa perjalanannya, maskapai ini mengandalkan 3 pesawat yang terdiri dari 1 Fokker F28 dan 2 Boeing “Jurassic” 737-200. Seiring berjalannya waktu, Airline inipun menambah armadanya mulai dari Boeing 737-300, Boeing 737-400, Boeing 737-500, Airbus A319, Airbus A320, Airbus A321 dan 2 widebody Airbus A330-200. Dengan base Jakarta dan Surabaya, Batavia berhasil memberikan pelayanan yang cukup baik kepada penumpangnya, lebih dari 40 rute berhasil dilayani dengan baik. Prestasi ini tentunya tidak hanya di tingkat domestik saja, maskapai inipun pernah mengembangkan hingga rute – rute international. Seperti Jakarta – Pontianak – Kuching, Jakarta – Denpasar – Dili, hingga Jakarta – Guangzhou. Batavia Air memiliki catatan manis sebagai maskapai penerbangan yang tidak pernah mengalami kecelakaan (zero accident). Malah maskapai ini pernah lolos dari daftar hitam Uni Eropa bersama dengan Garuda Indonesia, Airfast Indonesia, Mandala Airlines dan Indonesia AirAsia     Batavia Air juga pada masa kejayaannya, dengan menggandeng Aeroflyer Institute mengadakan program beasiswa pilot yang ditanggung 100% oleh Batavia, Dengan Ikatan Dinas tentunya. Namun tidak berlangsung cukup lama, Juli 2012 maskapai penerbangan swasta Indonesia AirAsia mengumumkan rencana akuisisi 100 persen saham Batavia Air. Bahkan untuk akuisisi ini Indonesia AirAsia bersama dengan induknya, AirAsia Bhd, telah menyiapkan dana tunai sebesar US$ 80 juta. Tentu saja akuisisi ini bertujuan agar IAA dapat tumbuh dengan cepat setelah menggarap rute – rute peninggalan Batavia Air. foto diambil dari blog sembarang, abaikan yang dilingkari, hey looks it’s me on left side XD   Namun, Oktober 2012 AirAsia Group membatalkan rencana akuisisi ini karena dianggap beresiko terhadap saham AirAsia. Terlebih lagi, menurut penelitian dari OSK Research, Batavia Air memiliki utang yang sangat besar, Ada luka yang cukup besar di dalam tubuh Batavia. Perusahaan keluarga ini tidak terkelola dengan baik, terlebih pesawat-pesawat yang dioperasikan Batavia Air juga rata-rata berumur tua, antara 15-20 tahun sehingga sangat boros bahan bakar dan biaya perawatannya tinggi. Interior A330-200 PK-YVI, Batavia Air   Klimaksnya adalah saat  International Lease Finance Corporation (ILFC) mengajukan gugatan pailit karena Batavia Air memiliki utang tertagih sebesar US$ 4,68 juta pada 13 Desember 2012, Biaya yang sangat besar ini diakibatkan juga oleh duo widebody A330 yang saat itu turut disewa, Beroperasi di rute international Jakarta – Jeddah, untuk mengangkut jamaah Haji, namun dalam faktanya sendiri sempat dipakai untuk beberapa rute domestik seperti Jakarta – Medan, Jakarta – Denpasar. lihat dalam video ini, pesawat sebesar itu dengan okupansi yang bisa dibilang sepi 🙁 31 Januari 2013, Batavia dinyatakan resmi pailit oleh Pengadilan Niaga. Bahkan pasca dinyatakan pailitnya maskapai ini, Batavia masih meninggalkan hutang sebesar Rp 2,5 Triliun kepada sejumlah kreditur termasuk pesangon bagi karyawannya. Selamat tinggal Batavia.. 🙁 (imt) *foto dari indoflyer.com, dan berbagai sumber

Advertisements

14 comments

Sharing Pengalaman Atau Komentar Masbro Disini Ya

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: